Wednesday, August 27, 2008

Indonesian Night 2008

Fiuh, akhirnya setelah menunggu waktu sekitar dua minggu menuju tanggal 19 Agustus 2008, berangkat juga grup Kinarya Gencar Semarak Perkasa atau yang lebih dikenal dengan Kinarya GSP. Tujuan keberangkatan kali ini juga untuk memenuhi undangan KBRI di Phnom Penh, Kamboja, dengan tajuk Indonesian Night 2008. Menampilkan sejumlah tarian klasik tradisional Indonesia dan modern Indonesia dengan akar dar tarian klasik Indonesia.

Singkat cerita kami berangkat dari Jakarta dengan Singapore Airlines SQ 957 Jakarta-Singapore, keberangkatan pkl. 11.40 dan tiba di Singapore pkl. 14.15 dilanjutkan ke Phnom Penh dengan Silk Air MI 608 tujuan Phnom Penh pkl. 16.20. Total perjalanan dari Jakarta hingga Phnom Penh adalah 5 jam 30 menit dengan transit di Singapore (lumayan bo buat makan dan belanja!! he he).

Jujur ketika diberitahukan akan mendarat di Phnom Penh, saya langsung celingak celinguk liat di jendela pesawat, loh mana kotanya, mana bandaranya, mana suasana pinggiran bandara, kok yang ada malah tanah-tanah kosong atau hutan-hutan menjelang tandus. Hmmm jangan-jangan si airport benar-benar jauh di luar kota. Ya sudah pasrah aja (sambil membayangkan perjalanan lalu ke Pyong Yang, Korea Utara). Sesampai touch down, baru ngeh kalau sudah di Bandara Udara Internasional Phnom Penh. Ya ampun kecil banget seperti di Manado atau hmmm seperti di Yogya, tapi bedanya ini lebih sepi dan ada tulisan Khmer sebesar billboard yang naga-naganya juga gak ngerti.

Turun dari pesawat langsung deh motret-motret suasana bandara lengkap dengan pesawatnya. Sesampai gedung airport kami disambut oleh orang-orang KBRI, (aduh maaf lupa deh nama lengkap mereka) dimulai dari Pak Eko, Ibu Novi, Pak Ichwan, Pak Rwitomo, Pak Endang (cs nih secara sama-sama tukang dokumentasi) dan lainnya (maaf lagi gak disebut namanya satu persatu). Secara spontan kami digiring menuju VIP Room, uuh sejuknya ruangan berac dengan foto-foto black and white Angkor Wat, kami pun duduk manis, sambil masih plenga plengo ha ha ha oh ya lupa total rombongan kami 25 orang. Sudah duduk tenang, diberi cemilan snack dan minuman yesco susu kedelai.

Setelah acara ramah tamah basa basi, kami melanjutkan perjalanan ke Hotel Cambodiana, sekitar 20 menit dari airport. Perjalanan dari airport ke hotel unik, kenapa? Lajur mobil seperti Eropa, sebelah kanan, banyak motor, banyak pengendara motor tanpa helm, satu motor bisa 5 (lima) orang, banyak mobil mewah, dari Hummer hingga Prado. Suasana kota yaah mirip Bekasi, Cianjur gitu deeh atau bagi yang udah lebih lama di Jakarta menganggap Phnom Penh seperti kota Jakarta tahun 1970an. Hotel mewah nan sejuk ber-ac menjadi penginapan kami selama satu minggu dari kamar 401-444 dan 509.

Coba panggung di Chaktomouk Convention Hall yang hanya 5 menit dari hotel menggunakan kendaraan dijadwalkan tanggal 22 Agustus 2008, kami dari pkl. 10.00 hingga GR pkl. 19.30 sudah di gedung Chaktomouk. Chaktomouk sendiri artinya empat muka, yang menurut orang setempat dinamakan begitu karena patokan dari Angkor Thom dimana empat muka ini adalah pengejawantahan Raja Jayawarman VII. Atau juga pengertiannya adalah Chaktomouk Convention Hall ini tepat di tepi Sungai Mekong dan tepat aliran yang melewati gedung ini merupakan perempatan dari anak sungai Mekong. Tanggal 23 Agustus, semenjak sore semua panitia yang notebene orang-orang KBRI super sibuk mengingat protokol dari kerajaan juga yang mengatur. Raja Norodom Sihamoni akan hadir menyaksikan pertunjukan Indonesian Night 2008. Protol kerajaan menyiapkan, kursi, meja, dan panggung kecil khusus untuk duduk sang raja di depan semua kursi yang ada dan letaknya lebih tinggi dari kursi lain.

Teng! Tepat pkl. 18.30 iringan mobil kerajaan datang...dan mercedez hitam berhenti tepat di depan pintu masuk teater, maka munculah Raja Sihamoni yang disambut oleh Pak Eko, Pak Guruh Sukarno Putra (selaku komisaris Kinarya GSP, dan sahabat karib raja), menteri kebudayaan Kamboja, Princess Buppha Devi (kakak Raja Sihamoni). Mereka beriingan masuk ke gedung. Setelah raja bersalaman dengan para dubes, tamu VIP, relasi kerajaan, maka dimulailah acara Indonesian Night 2008.

Tarian pertama adalah tarian Lambang Sari, musik, lirik, koreografi oleh Guruh Sukarno Putra. Tarian ini diciptakan dan dipersembahkan untuk Raja Sihamoni dan simbol persahabatan Indonesia Kamboja. Tarian yang berunsur dari bedhaya, legong, ini dibawakan oleh 7 penari wanita dan berdurasi selama 10 menit. Tarian yang dibawakan adalah: 1. Lambang Sari 2. Legong Jobog 3. Oleg Tambulilingan 4. Indonesia Jaya 5. Welcome To Indonesia 6. Gairah Teruna 7. Seri Sumatera 8. Gita Asmara 9. Jaipong 10. Kangkung Bandung 11. Manuk Dadali 12. Baris Tunggal 13. Gandrung 14. Dunia Indonesia

Acara berlangsung sukses selama dua hari, Princess Buppha Devi hingga datang kembali untuk show hari kedua yaitu tanggal 24 Agustus. Jumlah kapasitas ruangan adalah 546 kursi, habis terisi semua, banyak yang berdecak kagum akan tarian-tarian yang tidak monoton, unik, ekspresif dan lincah. Banyak berpikir akan membosankan, ternyata berbeda sekali! Malahan hari kedua penonton tidak beranjak dari kursi mereka terus berdiri dan akhirnya meminta foto bersama penari. Sungguh luar biasa!! Kami sempat mengunjungi The Killing Field, Genocide Museum Toul Sleng (former Khmer Rouge S 21 Prison), Pasar Rusia. Kembali ke tanah air tanggal 26 Agustus dengan MI 622 tujuan Singapore, yang dilanjutkan dengan SQ 962 tujuan Jakarta. Oh ya sebelum kami pulang, KBRI mengadakan makan malam bersama dan pemberian bingkisan dari Ibu-ibu Dharma Wanita Phnom Penh.

Pelepasan kami diadakan di VIP Room bandara oleh Pak Eko, Pak Rwitomo, Ibu Novi, Pak Yanto, Pak Ichwan dan lain-lain. Sambil menunggu proses check in saya pun tak segan meminum susu kedelai he he he....(rfn/26/08/08 10.55pm)

*silahkan mengunjungi juga http://ficanoe.multiply.com finale


Posted at 01:21 pm by fic_cano -

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry